Cerita Cinta : Dalam Balutan Tawa


  Garis Pena

Rasanya, pagiku akan terasa lebih menyenangkan jika selalu mendapatkan senyum terindah itu. Satu senyuman yang selalu saja melebur di setiap kegalauan di hatiku.

"Reyna, apa kamu tidak lelah untuk selalu tersenyum ?" Candaku dengan mimik serius.
"Aish.. Kamu ini ! Jangan jadikan dirimu seperti namamy itu, Rain !" Balasnya tak mau kalah.
Aku tertawa geli mendengar kata yang keluar dari bibir manisnya itu, beraninya dia mengejek nama kerenku ini.
"Ish.. Jangan mengejek namaku !" Ucapku sambil menampakkan ekspresi kesal.

Ku akhiri percakapan pagi itu karena dentingan lonceng yang telah bergema dari arah ruang guru.

"Kita jumpa istirahat nanti, ku tunggu di perpustakaan ya ?!" Teriaknya sembari berlari-lari kecil menuju ruangan yang bertuliskan XII IPS 1.

Dentingan lonceng telah berganti dengan bel yang berbunyi nyaring, sebagai pertanda bahwa lampu yang sejak pagi padam telah kembali menjalankan tugas militernya.

"Hey, sedang membaca apa ?" Ujarku membuyarkan aksi membacanya.
"Aish Rain.. ! Kembalikan bukuku !!!" Balasnya dengan nada kesal karena aktivitas jahilku mengambil buku yang semula bertengger manis di telapak tangannya.
"Hahaha,, baiklah !!! ini bukumu, Huh ! sama sekali tidak menarik untuk di baca !" Kataku sini setelah membolak-balik buku miliknya.
Ia yang semula sibuk mengoceh tidak jelas pun terdiam dengan menambahkan sebuat bibir yang lebih di condongkan ke depan.

"Rey, kenapa akhir-akhir ini kamu menyukai buku-buku yang membosankan itu ?!" Tanyaku penasaran.
Bagaimana tidak, satu hari yang lalu aku telah melihatnya membaca habis sebuah buku membosankan yang berjudul "Lebih mengenal hemofolia" Setelah sehari sebelumnya ia juga membaca habis sebuah buku "Penyakit-penyakit mematikan". Dan di hari ini, aku telah melihatnya tengah asyik membaca buku yang cukup tebal bertema akan penyakit "Leukimia".
"Memang tidak boleh ? buku-buku beginian sangat sangat memberi informasi, Tau ! daripada kamu, hanya sebatas kertas bergambar kartun yang di padukan bersama beberapa teks singkat di sisinya" Protes Reyna dengan mimik mengejek akan segala hoby membaca komikku.
"Walau begitu, komik itu sangat menyenangkan daripada buku-buku favoritmu itu. Ish.. Buku-buku tebal yang banyak menguras waktu dan tenaga !" Elakku tak terima.
"Haha, sudahlah. Ini sama sekali tidak lucu Rain Anggara !. Lebih baik kita mengisi lambung yang telah menagih jatah makannya" Balasnya dengan ekspresi seseorang yang sangat lapar.

Tiga hari sudah aku tak berjumpa dengannya. Gadis cantik yang saat ini tengah sibuk memenuhi tugas militernya sebagai seorang siswi terpandai di sekolah untuk meraih prestasi di Olimpiade Sains.

"Berjuanglah ! semoga berhasil !" Tulisku melalui salah satu aplikasi yang tengah mendapat posisi "Number One" di indonesia.
"^_^ Thanks !" Balasnya beberapa menit kemudian.

Setelah Lima hari menunggu kedatangannya, akhirnya aku kembali menemukan senyum keceriaannya disini. Di sebuah tempat yang telah mendiami hatinya yang hampir Tiga tahun. Lagi-lagi aku mendapatinya tengah serius dengan membaca buku setengah tebal yang disana bertuliskan "Menyikapi Leukimia" dengan tinta berwarna putih. Terlihat kontras dengan cover hitam yang membungkus erat buku berlembar hampir seratus itu.

"Aku merindukanmu !" Ungkapku dengan menampakkan satu senyuman kepadanya.
"Aku bahkan tidak kepikiran denganmu !" Balasnya dengan wajah yang dibuatnya seserius mungkin.
"Oh, baiklah. Aku pergi !" Ucapku berlagak marah dan kecewa.
"Rain.. Aku hanya bercanda ! kamu ini, seperti anak kecil saja" Celotehnya dengan perkataan yang mengundangku tertawa geli.
"Hahaha, sudahlah ayo kita makan. Kali ini aku traktir untuk merayakan kesuksesanmu meraih juara 1 !" Sahutku dengan menarik-narik tangan Reyna.

Karena kesibukanku dalam mengalihkan jabatan ketua OSIS, aku kembali tidak berjumpa dengan senyuman manisnya. Kurasa, aku hampir gila karena memikirkanmu, Reyna.

"Rein, Reyna sakit apa sih ? sudah Tiga hari dia gak masuk." Adu Farza, teman sebangku Reyna.
"Apa ? yang benar za ?" Tanyaku kaget.

Tanpa menjawab bertanyaan Farza, dengan langkah cepat kularikan tubuhku menuju tempat parkir motor kesayanganku. Setelah mendapat informasi dari pembantu rumah tangga Reyna, kulajukan segera Jupiter MX ku demi menghampiri Reyna yang katanya sedang mangalami masa kritis.

"Reyna kritis Rain.. " Kata tante Gita dengan nada duka yang mendalam.
"Maaf, tante tidak memberitahumu. Itu.. karena Reyna melarangnya." Tambahnya kemudian.
Aku sangat Faham dengan alasan ini, Reyna adalah seorang mahluk yang takkan pernah mau melibatkan orang lain dalam masalah hidupnya.

Disaat aku tengah sibuk mendengarkan banyak cerita dari Ibunya, seorang Dokter muda kemudian menghampiri.

"Maaf, kami telah berjuang dengan sekuat tenaga. Tapi Allah berkehendak lain.Ia telah pergi dengan tenang" Ucap dokter dengan nada serius.

Mendengar hal itu, seorang Ibu yang awalnya terlihat tegar dan kuat mendadak rapuh dan terjatuh tepat disampingku. Dengan cepat, beberapa perawat pun membawanya dengan kursi roda.

"Rey, apa kamu benar-benar tidak bernafas lagi ?! kembalilah, jika kamu perlu Oksigen, ambillah sebagian Oksigen milikku. Bangun Rey, perjalanan kita masih panjang. Cita-citamu untuk menjadi seorang perawat belum tercapai Rey ! Bangunlah !" Ucapku pada sosok tubuh dingin yang terdiam bisu di atas nakas rumah sakit.
"Sudahlah Rain, ini sudah menjadi jalan terbaik untuknya. Mungkin keputusan Tuhan lebih baik dalam memanggilnya, karena sudah Sepuluh Tahun belakangan ia menderita. Kamu tau, Leukimia telah banyak merenggut keceriaan Reyna. Ia sempat hilang dalam jurang kebisuan dan selalu ingin menyendiri, tapi semenjak kamu hadir dalam hidupnya, ia menjadi berubah 360 derajat. Senyum dan keceriaannya pun telah kembali menghiasi wajahnya, terima kasih karena telah mau menjadi sahabat baiknya selama ini. Dan ini, ini surat yang Reyna titipkan untukmu." Tutur Orang tua satu-satunya Reyna, Ibu Gita padaku.

Aku terdiam dalam kebisuan, bahkan aku tidak memperdulikan beberapa perawat diikuti oleh Ibu Reyna telah membawa tubuh dinginnya untuk segera di mandikan. Mungkin ini alasannya begitu menyukai berbagai macam buku yang berisikan Penyakit-penyakit mematikan.

For : Rain Anggara.
Aku terlalu mengagumi sosokmu, seperti aku mengagumi hujan yang selalu turun di siang hari. Menyejukkan ! Maaf, mungkin aku nggak bisa hadir dihari ulang tahunmu nanti, karena Dokter bilang kalau umurku tak kurang dari Satu Bulan lagi. Penyakit itu.. telah menyebar ke seluruh tubuhku. Maaf, aku benar-benar minta maaf padamu. Tak banyak yang ku berikan padamu, selain hanya senyum dan senyum tuk menghiasi harimu agar tak berwarna kelabu. Rain, semoga hidupmu lebih berwarna dan cerah ya..

Love You..
Reyna Syafira.

Mungkin Sobat AHMD tertarik dengan artikel  Cerita Romantis Sebuah Penyesalan

Comments

Popular posts from this blog

Cerita Horor : Tanah Kuburan

Cerita Cinta : 7 Tanda Susah Move On Dari Mantan

Cerita Inspirasi : Kakak Dan Adik