Cerita Cinta : Sebuah Penyesalan
Kali ini AHMD pengen ngebawain sebuat cerita romantis meskipun tidak romatis-romantis banget sih..
Maksudnya lebih menuju ke penyesalan seseorang yang baru meyadari tentang adanya seseorang yang sangat mencintainya..
Pengen tau ceritanya seperti apa ?
Yuk mari di simak..
Sebuah Penyesalan.
Pagi lagi,,
Aku bangun dan membuka jendela ternyata langit masih mendung dan hujan masih turun seperti yang terjadi semalam. Kuaktifkan handphone ku. Belum aku bangkit dari tempat tidur ini, hp ku berbunyi kuangkat tiba2 temanku berbicara padaku dengan suara tersedu-sedu sambil menocoba menahan tangisnya.
Ku coba menenangkannya dan memintanya bicara, betapa terkejutnya aku ketika dirinya berkata kalau Rini -Teman sekelas kami- teman akrab dan ganknya di kelas meninggal dunia karena kecelakaan. Betapa terkejutnya hati ini, aku sama sekali tak menyangka. Mungkin aku tak meneteskan air mata karena aku seorang pria tapi hati ini menangis karena kehilangan salah satu teman .
Aku pun bergegas bangkit dari tempat tidur yang berantakan ini. Kutelpon semua teman2ku. Setelah mandi kuberangkat ke rumah rini tanpa pamit dan sarapan. Masalah berangkat sekolah sejenak kulupakan. “udalah sekolah ntar aja”, kataku.
Tiba di rumah rini suasana ini benar2 berat buatku, dengan kain putih yang berkibar di depan rumahnya. orang2 yang lalu lalang berpakaian hitam dengan mata yang merah karena tangisan. Ku berjumpa dengan salah satu temannku, Budi namanya. aku pun menanyakan sebab kecelakaan tersebut.
“Semalam dia keluar rumah sekitar jam 10 malam, entah dia mau kemana. dan ketika dia nyebrang ada sebuah mobil dengan laju cepat menabraknya”, begitu kata budi.
“Terus loe tau g siapa yang nabraknya”, Tanyaku ke budi
“kata saksi mata seh yang nabrak kabur, dan mereka juga tak bisa melihat plat mobil tersebut karena hujan deras semalam”, jawab budi
“oh, sialan orang itu”, jawabku dengan geram
Tak lama kemudian budi memberiku selamat ulang tahun padaku. Iya memang hari ini merupakan hari bahagia buatku karena ulang tahun ku yang ke 17, tapi kebahagiaan itu berubah menjadi kesedihan.
Hujan pun reda, aku, budi dan teman2 yang lain pun masuk kedalam kamar di baringkannya rini. Suasana begitu sedih. Lantunan suara tangis terus menggema di telingaku. Aku menyalami orang tua rini dan seorang adiknya wina yang merupakan adik kelasku juga.
Betapa terkejutnya aku ketika mendengar dengan suara lantang dari wina yang menuduhku sebagai sebab meninggalnya rini kakaknya.
Semua orang terkejut begitu pun aku. Hati ini bertanya-tanya. kemudian wina menceritakannya semuanya.
” Semalam kak rini sempat berkata padaku kalau dia suka sama kak dedi. Tapi kak dedi selalu cuek terhadap diri kak rini. Kak rini juga udah sering kali curhat ke aku kalau dia suka ama kakak, dan semalam dia mengatakan kalau besok adalah hari ulang tahunnya, kak rini terus meminta pendapat padaku untuk memberikan hadiah yang tepat buat kakak. dan kak rini berencana membelikan kado dan datang ke rumah kakak semalam, aku melarangnya karena tak ada gunanya apalagi kak rini seorang wanita yang dalam ikthiarnya tidak sopan seorang wanita mengatakan cinta pada kaum pria. Tapi kak rini tetap memaksa, aku pun tidak bisa berbuat apa2 lagi. Kak rini pun memintaku untuk tidak memberi tahu ke mama papa kalau dia mau keluar hanya untuk seorang pria yang cuek pada kak rini. kakak dedi adalah penyebabnya karena sikap kak dedi kak rini sekarang telah pergi..!!!”, kata wina sambil terus mengeluarkan air mata.
Sejenak ku terteguk dan gemetaran. Kuberbalik dan memandang wajah rini yang terlihat olehku seakan tersenyum pada kehadiranku.
Sebenarnya aku udah mengetahui kalau rini telah menyukai ku. Aku sengaja cuek padanya karena aku ingin dia melupakan hatinya padaku. Karena aku tak mau menyakitinya kelak. mengapa?, karena aku juga sebenarnya sayang rini, tapi aku tak bisa karena aku telah dijodohkan oleh orang tua ku sejak aku kecil. Aku cuma ingin rini tidak tahu itu, makanya aku selalu menghindar darinya.
Ternyata keputusanku salah, keputusan yang telah menyebabkan hati banyak orang hancur karena kepergiaanya.
Aku menyesali semua itu namun benar kata orang bijak kalau “Keputusan apa yang akan kita buat harus kita acu dengan prediksi kita kelak atas keputusan kita” dan “Penyesalan itu selalu datang setelah musibah menimpa kita”
Mungkin Sobat AHMD Tertarik Dengan Artikel Sisi Lain Tentang Cinta
Comments
Post a Comment